Tiba-tiba aku menangkap sorot mata Evi yang begitu marah, menghujam di hadapanku. Satu demi satu pakaian kami tanggalkan. Bokep Kuraih tangannya, sekali lagi Evi tersentak namun tidak berontak. Ada apakah ini, Tuhan?Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota Cirebon, hingga akhirnya di kantor hanya tersisa aku, Evi dan satu teman lagi. Tapi aku juga tidak bisa lepas dari dekapan Tia. Sampai pada hari yang dinanti-nanti,sekali lagi Tia mendominasi ku. Tapi aku juga tidak bisa lepas dari dekapan Tia. Aku dan Tia memilih untuk sembunyi di kamar. Malam semakin larut, kamipun sudah kelelahan dan akhirnya malam itu ditutup dengan mencari tempat tidur masing-masing. Oooooggghhh…Evi…begitu lincah gerakkan bibir dan kedua tangannya mempermainkan payudaraku. “Thanks ya, Vi”.




















